Biotransformasi
Biotransformasi
merupakan suatu proses yang umumnya mengubah senyawa asal menjadi metabolit. Di
dalam kasus tertentu metabolit dapat bersifat lebih toksik daripada senyawa
asalnya. Reaksi semacam ini dikenal sebagai “bioaktivasi” (Lu, 1995). Sebagai
contoh metabolit hasil reaksi sitokrom P-450, yakni epoksida, senyawa halogen
dan nitro aromatik, serta senyawa alifatik tak jenuh (Mannervik &
Danielson, 1988). Senyawa-senyawa asing yang masuk ke dalam tubuh akan
menjalani biotransformasi. Tempat yang terpenting untuk proses ini adalah hati
atau liver. Proses ini juga terjadi di paru-paru, lambung, usus, kulit, dan
ginjal (Lu, 1995). Liver merupakan jaringan terbesar dalam tubuh. Terdapat dua
pembuluh darah yang memasuki liver, vena porta yang membawa hasil peruraian
substansi makanan, dan artery yang membawa darah kaya oksigen dari paru-paru
(Anonim,2002). Liver menempati peringkat utama sebagai tempat biotransformasi.
Hal ini karena liver diantaranya berfungsi sebagai pengelola sistem pembuluh
darah dan sistemparenkhim hepatica.
Sistem
pembuluh hepatika memungkinkan masuknya senyawa asing ke dalam liver melalui
vena porta, sebelum dialirkan ke dalam empedu atau disalurkan ke peredaran
darah sistemik melalui vena hepatika. Dengan demikian liver memiliki kesempatan
untuk menyerap senyawa asing dari dan kemudian menyimpannya di dalam parenkhim
yang kaya akan enzim. Dibandingkan dengan organ tempat biotransformasi lainnya,
liver merupakan campuran sel yang relatif lebih homogen. Selain itu, semua sel
parenkhim liver memiliki kemampuan melakukan biotransformasi. Dengan kata lain,
total populasi sel liver mampu melakukan mekanisme biotransformasi. Kemampuan ini
tidak dimiliki oleh organ lainnya (Sipes & Gandolfi, 1986).
Mekanisme biotransformasi oleh Williams (1959)
dibagi ke dalam dua jenis utama :
a. Reaksi
Fase I, melibatkan reaksi oksidasi, reduksi, dan hidrolisis.
b. Reaksi
Fase II, merupakan produksi suatu senyawa melalui konjugasi toksikan atau
metabolitnya dengan suatu metabolit endogen.
Pada fase
I, melalui ketiga proses reaksi tersebut, bangun kimia obat induk akan dirombak
sehingga bentuk ubahannya (metabolit) memiliki bangun kimia yang sesuai bagi
reaksi perubahan hayati tahap II, konjugasi. Namun bila obat induk telah
memiliki bangun yang sesuai untuk reaksi tahap II, maka senyawa semacam itu
akan langsung mengalami reaksi konjugasi tanpa harus mengalami perombakan
melalui reaksi tahap I (Timbrell,1982; Gibson & Skett, 1986), sedangkan
pada fase II reaksi utamanya adalah konjugasi glukuronidasi, sulfatasi, dan
glutationasi. Sistem konjugasi melibatkan aneka ragam enzim (Gibson &
Skett,
1986). Pada hakikatnya, mekanisme biotransformasi tahap II merupakan reaksi
sintesis
hayati (biosintesis).
Dalam
reaksi tersebut, terlibat penambahan gugus- gugus kimia endogen tertentu
(lazimnya polar, misalnya asam glukuronat, sulfat atau glutation) pada gugus
fungsional yang sesuai, yang ada pada molekul obat induk atau yang baru saja
dimiliki oleh suatu metabolit (hasil reaksi tahap I). Hasil reaksinya, berupa
suatu konjugat (keseluruhan molekul metabolit tahap II) yang lebih polar dan
kurang larut dalam lipid, atau lebih mudah terionkan dalam lingkungan pH
fisiologi, daripada obat induknya. Dengan demikian, pengeluaran obat dari dalam
tubuh menjadi lebih mudah (Timbrell, 1982). Oleh Gibson dan Skett (1986), jalur
biotransformasi tahap II ini diacu sebagai jalur pengawaracunan obat yang
hakiki, karena metabolit ubahannya hampir selalu mudah dikeluarkan.
Sitokrom P450
Sitokrom P450 adalah monooksigenase, yang setelah mengaktifkan oksigen molekuker (O2),
memindahkan 1 atom oksigen ke substrat, dan 1 atom lagi direduksi menjadi air.
Dinamakan demikian karena menyerap cahaya maksimal pada panjang gelombang 450
nm. Enzim ini dapat diinduksi oleh zat zat asing tertentu (induktor enzim), sehingga
akan terbentuk lebih bannyak oleh zat-zat asing ini.
Ada 2
reaksi dalam proses metabolisme obat, yaitu:
1.Reaksi
perombakan
-oksidasi : alkohol, aldehid, asam dan zat
hidrat arang dioksidasi menjadi CO2 dan air. Sistem enzim oksidatif terpenting
di dalam hati adlah cytochrom P 450, yang bertanggung jawab terhadap banyaknya
reaksi perombakan oksidatif.
-
reduksi: misal Kloralhidrat direduksi
menjadi trikloretanol, vit C menjadi dehidroaskorbat .
-
hidrolisa: molekul obat mengikat suatu molekul air dan pecah menjadi dua
bagian
misal Penyabunan ester oleh esterase,
gula oleh karbohidrase, dan asam karboamida oleh amidase.
2.
Reaksi penggabungan (konyugasi):
molekul
obat bergabung dengan suatu molekul yang terdapat didalam tubuh, sambil
mengeluarkan air, misal:
-
asetilasi: asam cuka mengikat gugus amino yg tak dapat dioksidasi
-
sulfatasi: asam sulfat mengikat gugus OH fenolik menjadi ester.
-glukuronidasi:
asam glukuronat membentuk glukuronida dengan cara mengikat gugus OH.
-
metilasi; molekul obat bergabung dengan gugus CH3, misal nikotinamid dan
adrenalin menjadi derivat metilnya Faktor yang mempengaruhi kecepatan biotransformasi
obat:
1.Konsentrasi
Kecepatan biotransformasi akan
bertambah bila konsentrasi obat meningkat.
Hal ini berlaku sampai titik
dimana konsentrasi menjadi demikian tinggi hingga
seluruh molekul enzim yg
melakukan pengubahan ditempati terus menerus oleh
molekul obat, shg tercapai
kecepatan biotransformasi yang konstan 2. Fungsi hati
pada gangguan fungsi hati,
metabolisme dapat berlangsung lebih cepat atau lebih lambat, shg efek obat akan
lebih lemah atau lebih kuat.
3. Usia
pada bayi yang baru dilahirkan,
semua enzim hati belum terbentuk lengkap, sehingga reaksi metabolismenya lebih
lambat. Untuk menghindarkan overdose, obat perlu diturunkan dosisnya.
Sebaliknya ada obat2xan yang metabolismenya pd anak2x berlangsung llebih cepat,
spt obat antiepilepsi fenitoin, fenobarbital, karbamazepin.
4. Manula
mengalami kemunduran pada banyak
proses fisiologisa a.l.: fungsi ginjal, enzim2x hati berkurang, yg dpt
menyebabkan terhambatnya biotransformasi, yg sering berefek keracunan.
5. Faktor genetis: ada orang yg
tidak memiliki faktor genetis tertentu, mis. Enzim untuk asetilasi sulfadiazin,
akibatnya perombakan obat ini menjadi lambat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar